“Apa sayang?” jawabku sambil mencium rambutnya yang harum. Bokepindo Ketika aku menyalaminya, dia tertegun dan terasa agak kikuk dan serba salah, aku pun merasakan hal yang sama. Ningsih? “Ooggghh, Maahh, ooogghh.. “Masa? “Okay, tinggalkan saja dulu, nanti saya panggil lagi kamu setelah kutandatangani” , kataku datar. Tapi memang nggak bisa dipaksakan. Ningsih berjanji untuk membeNingsihhukan nomor telepon rumahnya di Bandung dan aku diminta untuk datang paling tidak seminggu sekali.




















