Aku tersenyum. “ Besok saja Sayang..! Bokepindo Lalu pijitan turun ke bawah. Namun, tiba-tiba keberandianku hilang. Aku mengikutinya. Aku tengkurap. “ Telentang..! Kantorku sudah terlewat. Setelah beberapa lama menyodoknya, “ Terus dong Yang. Toh dia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku. Ya nggak apa-apa, ” katanya menjawab telepon. Aku jelas mendengarnya dari sini. Setelah mengunci salon, Fera kembali ke tempatku.


















