“Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Bokepindo Semakin kak Dewi menggelinjang, nafasku semakin memburu. Ayo makan rotinya !“, kata kak Dewi sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Dewi. Ia bangkit hingga terduduk. “Sebenarnya gara-gara kak Dewi sih !”, dan aku menunggu. Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Dewi. Dan makin lama makin membara. PLN sialan ! Aku yakin disana kak Dewi dan kak



















