Bu Bekti pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, “Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, “Jempolan. Bokepindo Iih. te.. te.. Nanti semua orang tahu bagaimana?””Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. “Apaperlu saya dulu yang coba?”, tanyaku sambil bercanda dan tersenyum. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh.



















