Aku pun merasa ketakutan. Bokepindo Pintunya terbuka sedikit. Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. “Erik marah..”, pikirku. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”
Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya.


















